Gelantung

PURWOREJO, mediakutim.com – Apa yang dilakukan pelajar SMP 24 Purworejo ini mungkin bagi sebagian masyarakat Purworejo adalah hal biasa. Naik angkutan perdesaan (angkudes) dengan cara nekat bergelantungan di pintu, bagian belakang dan atap lazim dijumpai di hampir seluruh kecamatan di Purworejo.

Alasan para pelajar ini adalah untuk mempersingkat waktu, jarak sekolah yang jauh dan ongkosnya terjangkau. “Memang banyak yang masih naik angkutan dengan cara tidak aman,” tutur Ery Prayitno, Kabid SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Purworejo, Rabu (05/04/2017).

Menurutnya, aktivitas tersebut sangat membahayakan keselamatan pelajar. Mereka bisa terjatuh dan luka apabila tidak kuat berpegangan atau angkutan melewati jalanan yang terjal.

Sementara alasan lain yang diduga menyebabkan maraknya aksi nekat itu adalah keterbatasan jumlah armada. Sopir yang kejar setoran, katanya, juga bisa menjadi alasan karena mereka akan menaikkan penumpang sebanyak-banyaknya.

Angkudes yang normalnya dinaiki 11 – 12 penumpang, akan menjadi dua kalilipatnya jika ditambah mereka yang naik di bagian luar kendaraan. “Anak-anak juga mau, jadilah mereka naik dengan cara berbahaya,” ungkapnya.

Dikatakan, perlu peran orang tua dan pihak sekolah untuk mencegah aksi nekat pelajar itu. “Orang tua harus lebih perhatikan keberangkatan dan kepulangan anak dari sekolah. Kepala sekolah juga harus ingatkan dan awasi anak didik mereka,” tegasnya.

Sementara itu, warga Kaligono Kaligesing Dodo menuturkan, aksi berbahaya pelajar lainnya adalah mereka mengendarai motor. Padahal mereka belum cukup umur dan tidak memiliki SIM.

“Sering saya ketemu anak boncengan tiga naik motor, tidak pakai helm dan ngebut, ini sangat berbahaya. Polisi harus menindak mereka karena kerap terjadi kecelakaan,” tandasnya. (Jas)